Episode ini menghadirkan dialog bersama Agus Wuryanto (@aguswuryanto08), pekerja seni kelahiran Bedakah, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, yang meniti karier sebagai fotografer profesional selama 19 tahun di Yogyakarta sebelum memutuskan pulang ke Wonosobo dan mendalami dunia seni tradisi secara utuh. Ayahnya adalah pengurus perkebunan teh di Tambi dan pernah menjabat sebagai kepala pabrik di Bedakah — salah satu pribumi yang bekerja di perkebunan teh sejak era Belanda hingga kemerdekaan — sementara ibunya memiliki bakat seni yang kuat, sering menggambar dan membuat sulaman, serta menyanyikan tembang copatan yang kemudian direkam dan menjadi salah satu sumber penulisan Agus. Lingkungan keluarga Agus memang dipenuhi seni. Ayahnya mendatangkan guru tari klasik, Pak Tuko, untuk mengajar di rumah — seluruh saudara perempuannya menguasai tari klasik, dan salah satunya sempat menjadi guru tari di Dinas Pariwisata Wonosobo. Kakaknya yang keempat bahkan masih menari setelah menjadi Jenderal dan menjabat sebagai Kepala Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Agus sendiri lebih tertarik ke seni rupa; ia menjalani pendidikan S1 Seni Grafis di ISI Yogyakarta dan membangun karier sebagai fotografer profesional, mengerjakan katalog pameran seniman seperti Nasirun dan Entang, serta foto untuk bandara, pangkalan militer, perhotelan, dan kalender perusahaan besar seperti Quick Traktor dan Bank Mandiri. Namun ketika anak-anaknya protes karena jarang bertemu ayahnya, Agus memilih pulang ke Wonosobo — dimulai dari nol, karena harga jasa fotografi di Wonosobo saat itu sangat jauh di bawah Yogyakarta. Di Wonosobo, Agus mendirikan kembali Himpunan Foto Wonosobo (HPBW) yang sempat mati selama 13 tahun. Ia menjadi anggota nomor 01 dan menjabat ketua selama tiga periode sebelum menolak periode keempat — menurutnya, memegang kepemimpinan lebih dari tiga kali tidak sehat bagi organisasi. Sejak itu, HPBW memberlakukan aturan maksimal dua periode untuk setiap ketua. Kini Agus berperan sebagai penasihat tetap di HPBW yang telah berkembang dari empat orang pendiri menjadi ratusan anggota. Selain HPBW, ia aktif di Masastro (Masyarakat Adat dan Seni Budaya Wonosobo), Wikraf (kerajinan), Wonosobo Antik, Pandowo (Paguyuban Perkerisan Wonosobo — ia sebagai pendiri, pemberi nama, dan penasihat), serta Wonosobo Heritage yang sekretariatnya berada di rumahnya. Masuk ke dunia tradisi bermula dari hobi fotografi — Agus sering membuat event wisata fotografi ke desa-desa seni dan perkebunan teh, sekaligus menanggap pertunjukan seni tradisi. Lama-lama, ketertarikan itu tumbuh, diperkuat oleh skripsi S1-nya yang meneliti topeng lenggeran Wonosobo. Ia beruntung masih sempat bertemu para tokoh tua yang merupakan pelaku langsung, sehingga memperoleh informasi yang sangat kaya — meskipun sebagian besar bahan penelitian dan foto kuno hilang karena dipinjam dan tidak dikembalikan, termasuk oleh seorang dosen yang mengambil file untuk tesis S2-nya. Ia juga pernah menjabat sebagai ketua Jemparingan Jogonegara sebelum mendirikan Komunitas Jemparingan Wonosobo — sebuah bentuk panahan tradisional yang bobot timbangnya lebih ke seni budaya — alat-alatnya dari bambu, memakai pakaian adat, duduk bersila, bergaya panah mataraman — berbeda dengan panahan modern yang lebih berorientasi olahraga. Salah satu karya tulis utama Agus adalah buku Parikan Topeng Lengger Wonosobo yang memuat notasi dan filosofi, telah dicetak dua kali oleh Dinas Pariwisata dan dibagikan gratis. Motivasi penulisan muncul karena banyak anak muda yang menari topeng lengger tanpa memahami karakter dan nilai filosofi topengnya, serta parikan yang kerap dinyanyikan tanpa cocok dengan suasana pertunjukan. Agus mengumpulkan parikan dari berbagai desa dan sesepuh, termasuk tembang dari ibunya yang wafat di usia 80 tahun — gondang kelieni, misalnya, berasal dari tembang ibunya waktu ia kecil. Penulisan dikerjakan selama tiga bulan bersama Mas Rendra Agusta, seorang filolog yang membantu menerjemahkan bahasa-bahasa lama dan menemukan korelasi-korelasi menarik — seperti istilah surung dayung yang ternyata memiliki akar dari daerah pantai (konsep kerja bakti), dan naskah Sulanjana yang ditemukan di Jawa Barat. Buku ini mendokumentasikan sekitar 35 tembang dari total 50–60 lebih topeng yang ada, sementara banyak gending lama sudah tidak dihafal oleh sesepuh yang masih hidup. Agus berharap suatu saat Dinas berani menganggarkan besar untuk mengumpulkan para pakar dan membuat babon — referensi lengkap untuk setiap gending yang mencakup arti, gamelan, parikan, tembang, tari, dan topeng terbaik. Karya pertunjukan terbaru Agus adalah Wayang Bundheng Gepuk — sebuah bentuk pertunjukan baru yang mengkolaborasikan wayang suket (wayang dari rumput anyaman) dengan iringan bundengan dan tari topeng Lengger. Wayang suket dibuat oleh Mas Badri, cucu dari Mbah Gepuk — satu-satunya keluarga yang masih menguasai teknik anyam rumput kasuran yang dipanen setiap bulan Sura. Nama "Bundheng Gepuk" diambil dari gabungan bundengan dan Mbah Gepuk, sekaligus sebagai penghargaan bagi keluarga pembuat wayang. Cerita yang dibawakan berasal dari folklor Wonosobo seperti Kijang Garungan dan tokoh-tokoh epos Panji (Gunungsari, Bujangganom, Pentul Tembem), dengan suluk berbahasa Indonesia agar dapat dinikmati oleh penonton di luar Jawa. Pertunjukan ini tampil di Festival Panji dan mendapat respons luar biasa — diskusi dengan Kompas menyebutnya sangat prospektif karena seluruh elemennya berbasis alam, berkorelasi dengan isu lingkungan hidup. Agus juga meneliti organologi bundengan secara mandiri, menemukan ukuran standar bambu dan cara menghasilkan suara bende, kendang, dan gong kempul yang mendekati aslinya. Tantangan Wayang Bundheng Gepuk tidak kecil — satu wayang harganya Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, dibutuhkan pemain bundengan yang ahli, sinden yang menguasai parikan lama, penari yang tanggap terhadap garapan baru, serta dalang profesional. Agus mengumpulkan tokoh-tokoh seperti Mbak Iwin (sinden kawakan) dan Mas Atno (tokoh gerongan Wonosobo), dengan Mas Tatak membantu olahan sastra. Tarif pentas lokal dipatok Rp 5 juta per jam atau Rp 30 juta untuk 6 jam, sementara di event Kemendikbud ia ditanggap Rp 58 juta. Selain itu, Agus kini fokus pada industri warangka (sarung keris) karena belum ada meranggi di Wonosobo — ia terpaksa belajar sendiri setelah beberapa kali bahan keris bagus hilang saat digarapkan ke pengrajin luar kota. Pesan Agus untuk generasi muda: ia terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, baik musik bundengan, pedalangan, maupun tari, dan bercita-cita agar wayang ini kelak bisa dibawakan dalam bahasa Inggris agar dinikmati secara internasional. Obrolan ini dipandu oleh Arif Lutfi (@wisanggeni_ontoseno0955), salah satu pengurus Yayasan Jaya Sanga Nusantara.