Episode #2Draf

Mengenal Mulyani Penerima AKI 2024 Kategori Pelopor dan/atau Pembaru | Kaladete Podcast Ep. 2 | Wonosobo

Tonton di YouTube

Deskripsi

Episode ini menghadirkan dialog bersama Mulyani (@mulyani_moelya / @ngesti_laras), guru Seni Budaya di SMP Negeri 2 Selomerto dan pengelola Sanggar Tari Ngesti Laras yang telah aktif sejak 1992. Mulyani merupakan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 kategori Pelopor dan/atau Pembaru dari Kementerian Kebudayaan — satu-satunya perwakilan dari Wonosobo yang terpilih dari 23 nominan se-Indonesia, dengan penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Sandiaga Uno. Kecintaan Mulyani terhadap seni tari berawal sejak kelas 3 SD, ketika ia diajari menari oleh almarhum Wahono. Saat itu ia sudah pentas menari bondan dan cita-cita menjadi guru tari sudah krentek di hatinya. Namun karena jurusan IPA di SMA, ia sempat mendaftar di Fakultas Peternakan Undip dan Teknologi Pertanian sebelum akhirnya diterima di IKIP Yogyakarta D3 Seni Tari — momen yang mengingatkan kembali cita-cita masa kecilnya yang nyaris terlupakan. Setelah lulus dari IKIP, Mulyani awalnya tidak ingin menjadi guru karena menganggap profesi itu penuh tatanan sosial yang kaku, sementara menjadi seniman terasa lebih leluasa. Namun, mengingat pengorbanan ibunya yang menangis menyekolahkannya — termasuk berjalan kaki 9 kilometer dari Desa Lamuk, Kaliwiro, menuju kota — ia memilih membahagiakan ibu dengan menjadi guru. Ia mengajar selama 16 tahun, sambil terus belajar dengan para pakar tari. Menurutnya, belajar tidak pernah berhenti meskipun sudah bergelar master, karena seni selalu berkembang. Sebagai guru Seni Budaya di SMP Negeri 2 Selomerto, Mulyani membidangi seni tari, musik, dan rupa. Ia menerapkan pendisiplinan ketat dalam mengajar: jam latihan harus tepat waktu, tidak boleh mulur setengah jam pun. Menurutnya, kesenian justru mengajarkan kedisiplinan — bermain gamelan harus tung tak tung tung gong, saat gong harus seblak (tepat); gerakan tari seperti midodari murun juga mengajarkan ketepatan, karena jika masih inem jalan (sembarangan) maka dipandang tidak indah. Filosofi ini ia tanamkan agar kedisiplinan dari seni masuk ke kehidupan sehari-hari siswanya. Pertemuannya dengan bundengan terjadi pada 2015, ketika ia menyaksikan Pak Munir dan Pak Bukhori tampil di Pendopo. Ia tertarik dan meminta izin untuk belajar dari keduanya. Saat itu bundengan nyaris tak terdengar di Wonosobo — bahkan anak muda tidak mengenal alat musik tersebut. Mulyani merasa ada tanggung jawab moral untuk mengenalkannya. Pada 2016, ia mulai memperkenalkan bundengan melalui ekstrakurikuler, dan tahun berikutnya alat itu sudah masuk ke pelajaran seni musik. Di SMP Negeri 2 Selomerto terdapat 40 bundengan untuk pembelajaran, dan pada tahun yang sama ia memimpin pentas 100 bundengan di Adipura dengan judul "Kumandanging Kidung Adi". Ia mengakui bahwa perjuangan mengenalkan bundengan tidak mudah — pernah ia berjalan keliling alun-alun Wonosobo membawa bundengan besar berharap ada yang bertanya, namun tidak ada yang menanggapinya, hingga akhirnya ia memanggil polisi yang berpatroli untuk mencoba memainkan alat tersebut. Untuk tari lengger, Mulyani menghadapi stigma di kalangan anak sekolah yang masih sinis terhadap lenggeran. Ia menciptakan tari kreasi berpijak pada tradisi lengger tanpa memberitahu siswanya bahwa itu tari lengger. Setelah menari dan menyukainya — mereka mengakui tarian itu cantik — baru ia mengungkap bahwa yang mereka tarikan adalah lengger, dan ternyata tidak seekstrim yang mereka bayangkan. Ia juga menciptakan tari "Angon Roso" dengan properti bundengan yang meraih penghargaan, serta tari "Hambatik" yang menceritakan motif bundengan melalui gerakan tari batik. Karya Mulyani telah menembus kancah internasional. Pada 2018, ia mengenalkan bundengan dan tari topeng Lengger di Sydney University, Monash University, dan Melbourne University di Australia, bekerja sama dengan Rossy Cook dari Monash University yang meneliti kecapi Wonosobo yang pernah dibawa oleh Margaret Kartomi sejak tahun 1972. Pada 2023, ia tampil di Thailand dan Berlin — di Berlin ia mewakili Indonesia dalam film tari yang masuk nominasi Southeast Asia. Di setiap penampilan luar negeri, ia membawa bundengan dan topeng Lengger, bahkan berani tampil spontan di ruang publik tanpa diundang. Ia mengamati bahwa penonton luar negeri sangat menghargai pertunjukan dengan khidmat — dilarang foto saat perform, dan tidak satu pun yang melanggar. Kecintaan Mulyani terhadap bundengan diekspresikan melalui berbagai media kreatif: miniatur bundengan untuk properti tari dan souvenir, topeng dan bundengan gantungan kunci, batik motif bundengan, hingga ecoprint bertema topeng dan bundengan. Ia sedang merintis rumah dan museum bundengan di Sanggar Tari Ngesti Laras yang telah memiliki sekitar 100 bundengan besar dan kecil dari berbagai pengrajin — Yatno dari Lamuk, Mas Juan dari Limbangan, dan penerus almarhum Mbah Marumi. Pada 2016, ia juga memintaskan "Wayang Bundengan" — bundengan berukuran besar yang dilubangi sebagai kelir untuk pertunjukan wayang — berkolaborasi dengan anak tunarungu yang menurutnya penuh talenta dan keikhlasan yang sulit ditiru. Selain itu, buku karya Mulyani sedang diterjemahkan oleh seorang dosen dari Malaysia untuk diterbitkan sebagai artikel internasional di Amerika. Ia juga berencana mengirim bundengan ke Ceko setelah mahasiswa dari sana yang belajar tentang Indonesia tertarik pada alat musik tersebut. Selain AKI 2024, Mulyani mendapatkan berbagai penghargaan: secara rutin dari Pemda Wonosobo sebagai koreografer, ASN berprestasi dari Bupati tahun 2023, dan ASN prestasi Pancasila dari BPIP — satu-satunya dari Jawa Tengah. Saat menerima AKI di Jakarta, ia menekan egonya: bukan prestasi pribadi, tetapi prestasi masyarakat Wonosobo yang diwakilinya. Ia sempat berbincang lama dengan Sandiaga Uno tentang bundengan dan Wonosobo, serta mengirimkan bundengan besar dan kecil untuk pameran di Kemendikbudristek agar ada wujud nyata dari alat musik yang diperkenalkan. Mulyani menegaskan bahwa bundengan memiliki senar empat hingga lima, dengan sisi kanan meniru suara bende dan sisi kiri meniru kendang dari tiga bilah bambu. Senar dari ijuk dipilih karena leluhur mempercayai pohon aren tidak pernah kesambar petir, dan kini konstruksi bundengan diperbarui menggunakan galih bambu yang menghasilkan resonansi lebih rapat dan bagus. Ia juga menggubah parikan dengan bahasa sederhana yang memuat pesan moral — seperti "manut pitutur guru, ojo nganti salah laku" — agar anak muda langsung paham maknanya, berbeda dengan parikan leluhur yang memakai bahasa tingkat tinggi seperti menyan putih pangundang dewo yang perlu ditafsirkan terlebih dahulu. Pesan Mulyani untuk generasi muda: jangan pernah lelah di hati, teruslah melangkah dengan penuh kepastian, dan globalkan seni tradisi menjadi mendunia — dengan catatan berjuang tanpa pamrih, bukan karena materi, tetapi karena suara hati sesuai petunjuk Ilahi. Ia juga menyoroti seni tradisi yang nyaris punah seperti kuntulan dan angguk lanang di Dieng yang perlu digali dan dimunculkan kembali. Obrolan ini dipandu oleh Yusuf Anang Maulana (Yos) (@yossparrow48), salah satu pengurus Yayasan Jaya Sanga Nusantara.

Tautan